Perkembangan IPA
A.
Sejarah
Terbentuknya Alam Semesta
Gagasan yang
umum di abad 19 adalah bahwa alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran
tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya. Selain
meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini menolak
keberadaan sang Pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan
tidak berakhir.
Materialisme
adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan
yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada
kebudayaan Yunani Kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem
berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme dialektika Karl Marx.
Pada tahun 1929,
di observatorium Mount Wilson California, ahli astronomi Amerika, Edwin Hubble
membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi. Ketika
mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka
memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa
bintang-bintang ini "bergerak menjauhi" kita. Sebab, menurut hukum
fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak
mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat
cenderung ke warna merah. Selama pengamatan oleh Hubble, cahaya dari
bintang-bintang cenderung ke warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang ini
terus-menerus bergerak menjauhi kita.
Pada tahun 1929,
di observatorium Mount Wilson California, ahli astronomi Amerika, Edwin Hubble
membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi. Ketika
mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka
memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa
bintang-bintang ini "bergerak menjauhi" kita. Sebab, menurut hukum
fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak
mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat
cenderung ke warna merah. Selama pengamatan oleh Hubble, cahaya dari
bintang-bintang cenderung ke warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang ini
terus-menerus bergerak menjauhi kita.
Ledakan raksasa
yang menandai permulaan alam semesta ini dinamakan 'Big Bang', dan teorinya
dikenal dengan nama tersebut. Perlu dikemukakan bahwa 'volume nol' merupakan
pernyataan teoritis yang digunakan untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan
dapat mendefinisikan konsep 'ketiadaan', yang berada di luar batas pemahaman
manusia, hanya dengan menyatakannya sebagai 'titik bervolume nol'. Sebenarnya,
'sebuah titik tak bervolume' berarti 'ketiadaan'. Demikianlah alam semesta
muncul menjadi ada dari ketiadaan. Dengan kata lain, ia telah diciptakan. Fakta
bahwa alam ini diciptakan, yang baru ditemukan fisika modern pada abad 20,
telah dinyatakan dalam Alqur'an 14 abad lampau: "Dia Pencipta langit dan
bumi" (QS. Al-An'aam, 6: 101)
Teori Big Bang
menunjukkan bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud,
dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan
melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk
alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain.
B.
Proses
pembentukan tata surya
Tata surya
adalah perkumpulan benda benda langit yang terdiri dari sebuah bintang yang
disebut matahari serta semua objek yang ikut terikat oleh sebuah gaya
gravitasi. Objek objek itu ialah termasuk di dalamnya delapan buah planet yang
telah diketahui beserta orbit yang memiliki bentuk elips, lima buah planet
katai atau planet kerdil, 173 buah
satelit alami, yang sudah diidentifikasi, dan juga ada jutaan benda langit
lainnya seperti asteroid, meteorid, komet, dan lainnya. Lalu bagaimanakah
proses pembentukan dan juga proses terjadinya tata surya? Semua pertanyaan
tersebut akan segera dijawab pada uraian di bawah ini.
Bagaimana proses
pembentukan tata surya? Dan hal itu masih menjadi pertanyaan yang belum di
ketahui jawabannya. Namun, sebentar lagi anda akan mengetahuinya. Sebab saya
akan menjelaskan tentang asal usul proses terbentuknya tata surya. Baca: Jagad
raya dan tata surya
Ada beberapa teori
teori yang
menjelaskan tentang proses terjadinya tata surya, salah satu teori yang
menjelaskan tentang proses pembentukan tata surya adalah teori kabut atau teori
nebula. Teori kabut atau yang sering di sebut juga dengan teori nebula ini di
kemukakan oleh seorang ahli yang bernama Immanuel kart dan juga simon de
laplace. Dalam teori ini pada mulanya terdapat satu buah nebula yang berbaur
dan hampir saja bulat serta dapat berotasi dengan menggunakan kecepatan yang
sangat lambat sehingga hal ini mulai menyusut.
Dan akibatnya
adalah terbentuklah satu buah cakram yang datar pada bagian tengahnya.
Penyusutan yang terjadi terus berlanjut dan pada akhirnya terbentuk satu buah
matahari yang ada di suatu pusat cakram. Cakram ini kemudian berotasi secara
lebih cepat lalu kemudian pada bagian tepi tepi sebuah cakramtersebut menjadi
terlepas dan membentuk gelang gelang bahan. Setelah itu bahan yang terdapat
dalam gelang gelang menjadi memadat sehingga terbentuklah salah satu anggota
tata surya yaitu planet-planet yang berevolusi untuk mengitari Matahari.
Proses terbentuk
dan proses terjadinya tata surya itu sebetulnya sama saja, hanya saja berbeda
kalimatnya saja. Proses terjadinya tata surya juga dijelaskan dalam beberapa
teori seperti teori pasang surut gas, teori kabut dan sebagainya. Pada
penjelasan diatas telah saya jelasakan tentang teori kabut atau yang disebut
juga dengan istilah teori nebula. Dalam teori kabut atau teori nebula yang
sudah saya jelaskan diatas telah diterangkan secara jelas bagaimana proses
terjadinya salah satu anggota tata surya yaitu planet. Dengan begitu setelah
anda membaca keterangan di atas maka secara tidak langsung anda sudah dapat
menjawab pertanyaan tentang bagaimana proses pembentukan dan proses terjadinya
tata surya yang di lontarkan diatas.
C.
Lapisan-lapisan
planet bumi dan fungsinya
Lapisan-lapisan Bumi
Lapisan Bumi dibagi menjadi 3 lapisan
utama, yaitu kerak bumi (crush), selimut bumi (mantle), dan inti bumi (core).
Secara struktur, susunan ini mirip dengan telur, yaitu cangkangnya sebagai
kerak, putihnya sebagai selimut, dan kuningnya sebagai inti bumi. Berikut ini
penjelasan masing-masing lapisan bumi tersebut:
1. Lapisan Kerak Bumi (crush)
Lapisan bumi yang paling luar adalah
kerak bumi dan menjadi tempat tinggal bagi seluruh makhluk hidup. Lapisan kerak
atau kulit bumi, yaitu lapisan yang tersusun dari batuan beku dan juga terdapat
batuan metamorf dan sedimen.. Ketebalan rata-rata lapisan kerak bumi adalah 32
km. Lapisan yang paling tebal berada di bawah benua, yaitu mencapai 65 km.
Sedangkan lapisan paling tipis berada di bawah samudera yang ketebalannya hanya
8 km. Permukaannya dicirikan oleh adanya pegunungan, dataran yang sangat luas
dan datar, serta palung laut. Suhu di bagian bawah kerak bumi mencapai 1.100
derajat Celsius.
Kerak bumi adalah lapisan yang selalu
bergerak. Pada zaman dahulu kala, seluruh daratan di bumi membentuk suatu massa
daratan yang sangat luas sehingga hewan-hewan dapat menjelajah dengan bebas.
Namun massa daratan yang sangat luas itu kemudian terpecah dan
pecahan-pecahannya mengapung membentuk lembaran-lembaran yang disebut lempeng.
Menurut ilmu lempeng tektonik, bumi terdiri dari 16 lempeng besar dan beberapa
lempeng kecil yang membentuk benua maupun samudera. Lempeng ini sangat aktif
bergerak sedikitnya 10 cm/tahun.. Mereka membuat tanah bergetar dan gunung
berapi meletus serta membentuk barisan pegunungan raksasa sewaktu bertumbukan.
Gambar Lempengan Bumi
2. Lapisan Selimut Bumi (mantle)
Lapisan bumi selanjutnya adalah
selimut bumi yang terletak tepat dibawah kerak bumi. Lapisan ini disebut juga
dengan selubung bumi dengan ketebalan mencapai 2.900 km. Bagian atas dari
lapisan ini merupakan lapisan batuan padat dan di bagian bawah merupakan
lapisan batuan yang likuid (cair-cair padat). Suhu di lapisan ini dapat
mencapai 3000 derajat Celsius. Lapisan ini berfungsi sebagai pelindung bagian
dalam Bumi. Selimut Bumi ini terbagi lagi menjadi 3 bagian, yaitu:
Litosfer: Litosfer adalah lapisan paling luar dari selimut bumi dengan
ketebalan mencapai 50-100 km. Lapisan ini tersusun dari bahan-bahan padat
terutama batuan. Litosfer memiliki 2 lapisan utama, yaitu lapisan sima
(silisium dan magnesium) serta lapisan sial (silisium dan aluminium).
Astenosfer: Astenosfer adalah lapisan yang berada di bawah lapisan
litosfer. Lapisan ini memiliki ketebalan antara 100 sampai 400 km. Disinilah
diduga tempat formasi magma terbentuk.
Mesosfer: Mesosfer adalah lapisan yang memiliki ketebalan 2.400-2.700 km
dan berada di bawah lapisan astenosfer. Lapisan ini sebagian besar terususun
dari campuran besi dan batuan basa.
3. Lapisan Inti Bumi (core)
Lapisan bumi yang terakhir adalah inti
bumi (core) yang terletak dibawah selimut bumi atau tepat ditengah bumi.
Lapisan yang memiliki ketebalan 3.500 km ini menjadi lapisan yang paling dalam
dari bumi. Lapisan ini sangat padat dan menjadi pusat massa dari bumi. Di
lapisan ini pula gravitasi dan aktivitas magnetik bumi dibangkitkan. Kandungan
terbesar dalam inti bumi adalah besi dan nikel. Tekanan dalam inti bumi sangat
besar dan suhunya mencapai 6000 derajat Celsius. Lapisan ini terbagi lagi
menjadi 2 bagian utama, yaitu lapisan inti luar (outer core) dan lapisan inti
dalam (inner core). Inti luar memiliki ketebalan sekitar 2.000 km dan memiliki
suhu mencapai 3.800 derajat celsius. Lapisan ini sebagian besar tersusun atas
besi cair. Sedangkan, lapisan inti dalam adalah lapisan yang menjadi pusat
bumi. Bentuknya seperti bola dengan diameter 2.700 km dan memiliki suhu 6000
derajat celsius. Bahan utama penyusun lapisan ini adalah besi dan nikel




Komentar
Posting Komentar